Denpasar –
Radartujuh, Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa
tidak menggunakan dolar AS dalam transaksi menuai kritik dari ekonom. Di tengah
pelemahan rupiah hingga menembus Rp 17.600 per dolar AS, para ekonom menilai
dampaknya justru tetap akan terasa hingga ke pedesaan.
Sebagaimana diketahui, kurs dolar AS saat ini jauh
melampaui asumsi APBN 2026 sebesar Rp 16.500.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law
Studies Bhima Yudhistira mengatakan masyarakat desa tetap akan terdampak karena
kebutuhan sehari-hari banyak berkaitan dengan barang impor.
Menurutnya, barang seperti LPG, pupuk, kendaraan
bermotor, hingga barang elektronik memiliki ketergantungan terhadap nilai tukar
dolar AS.
"Jangan dikira pelemahan nilai rupiah
terhadap dolar yang sudah Rp 17.600 itu tidak akan menjalar ke biaya hidup yang
naik di level desa," ujarnya, dikutip dari detikFinance, Senin (18/5/2026).
"Emangnya orang desa nggak pakai
barang-barang impor. Mulai dari handphonenya, kendaraan bermotor, komponen
elektroniknya, mesin cucinya itu semua akan terpengaruh. Pupuknya pun juga akan
terpengaruh harganya yang ada di sentra sentra pertanian kalau rupiahnya makin
melemah," sambungnya.
Bhima juga mengkritik cara pemerintah merespons
tekanan rupiah. Menurutnya, pemerintah seharusnya menyiapkan langkah mitigasi,
bukan justru memberi kesan situasi masih aman.
"Di Indonesia ini seolah justru menantang,
tapi tanpa persiapan. Saya kira sikap dan komunikasi seperti ini sangat sangat
membahayakan karena masyarakat seolah dibuat tenang tapi tidak siap dengan
sudden shock. Pemimpin di negara lain justru menyiapkan skenario terburuk
karena efek perang masih panjang," katanya.
Ia mengingatkan pelemahan rupiah terhadap dolar AS
sudah mencapai sekitar 7% dalam setahun terakhir. Kondisi itu dinilai bisa
berdampak pada investasi hingga gelombang PHK.
"Itu semua tinggal menunggu waktu saja sampai
harga-harga akan menekan di pedesaan dan jangan salah juga, kalau rupiahnya
terus melemah terhadap dolar, PHK massal, desa itu akan dibanjiri oleh mereka
yang jadi korban PHK di perkotaan kembali lagi ke desa tapi tidak berkerja, dan
tidak berpenghasilan kan itu akan jadi beban desa," ujarnya.
Inflasi Pedesaan Diprediksi Meningkat
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet juga
menilai pelemahan rupiah tetap akan menekan ekonomi desa melalui kenaikan harga
barang.
Menurut Yusuf, pupuk masih bergantung pada bahan
baku impor. Harga BBM domestik juga dipengaruhi harga minyak dunia yang
dihitung dalam dolar AS.
Selain itu, pakan ternak masih menggunakan jagung
dan bungkil kedelai impor. Obat-obatan di puskesmas, bahan pangan olahan,
hingga produk konsumsi harian juga memiliki komponen impor yang besar.
"Karena itu, ketika rupiah melemah tajam,
dampaknya terhadap inflasi pedesaan sebenarnya bukan persoalan apakah akan
terjadi atau tidak, melainkan seberapa cepat transmisinya muncul. Biasanya efek
tersebut mulai terasa dalam satu hingga dua kuartal setelah depresiasi
terjadi," ujarnya saat dihubungi detikcom.
Pasar Dinilai Tangkap Sinyal Negatif
Dari sisi ekonomi makro, Yusuf mengatakan
persoalan yang lebih sensitif justru terkait sinyal kebijakan yang ditangkap
pasar. Menurutnya, pasar valas sangat bergantung pada persepsi terhadap
komitmen pemerintah menjaga stabilitas ekonomi.
"Dalam situasi seperti itu, ekspektasi
pelemahan bisa berkembang menjadi tekanan nyata. Investor mulai meningkatkan
lindung nilai, permintaan dolar naik, arus modal keluar membesar, dan
depresiasi rupiah akhirnya memperkuat dirinya sendiri. Situasi seperti ini
dalam ekonomi sering disebut sebagai self-fulfilling depreciation,"
ujarnya.
Dalam jangka panjang, Yusuf menilai narasi yang
terlalu menenangkan justru berisiko membuat publik kehilangan rasa urgensi
terhadap reformasi struktural.
"Padahal tekanan kurs yang berulang
menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki persoalan mendasar, mulai dari
ketergantungan impor pangan dan energi, pasar keuangan domestik yang dangkal,
hingga disiplin fiskal yang sering diuji ketika tekanan global meningkat,"
katanya. Cl – Sumber : Detik.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar